Latest News

Rabu, 01 Maret 2017

KAWASAN MISTERIUS DI PEDALAMAN HUTAN BORNEO



Tak pernah terkuak sebelumnya jika Malaysia memiliki sebuah kawasan wisata misterius di pedalaman hutan Borneo yang lembab. Tepatnya berada di celah-celah sebuah batu kapur yang membentuk gua sempit.
Orang-orang yang memasuki gua tersebut mengaku mual karena menghirup udara yang sangat lembab dan kotor. Kotoran burung membuat udara menjadi pengap dan berbau seperti amonia.

KAWASAN MISTERIUS DI PEDALAMAN HUTAN BORNEO

Pada bagian atap gua terdapat jutaan kelelawar yang bergelantungan hingga menutupi seluruh langit-langit terowongan tersebut. Sedangkan dinding telah ditutupi oleh kecoa, kumbang, tikus dan serangga lain yang menjijikkan.
Kelelawar yang mati terjatuh akan menjadi santapan mereka. Tak hanya itu saja, ternyata gua ini juga menjadi rumah bagi ular-ular yang siap menyergap tikus dan kecoa.




Saat memasuki gua, para pengunjung harus ekstra berhati-hati. Salah-salah bisa menginjak kotoran burung dan kelelawar yang telah menumpuk menjadi gundukan dengan kedalaman 10 kaki. Tapi di bagian pinggiran gua terdapat kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai pegangan saat menjelajah gua.
Gua ini terletak di Bukit Gomantong yang berada di bawah naungan cagar alam hutan lindung Departemen Kehutanan Sabah. Gua yang berada di sini merupakan gua terbesar di negara bagian Sabah.




Lokasi ini menjadi tenar saat sarang burung yang telah berusia ratusan tahun ditemukan dan dipanen oleh penduduk lokal. Kemudian hasilnya dimanfaatkan sebagai salah satu bahan untuk membuat sup burung yang lezat. Bahkan sarang-sarang ini dihargai mahal ketika diekspor ke China dan Hongkong.
Namun kini, pemanen sarang burung telah diatur agar tidak mengeksploitasi sumber penghidupan itu secara berlebihan. Jadwal ditentukan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari hingga April dan selanjutnya pada bulan Juni hingga September.

Para penduduk yang telah memegang lisensi dapat naik ke atap gua-gua untuk memanen sarang burung walet. Mereka biasanya membekali diri menggunakan tangga kayu, galah rotan dan keranjang bambu untuk menampung hasil panen.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Find Us On Facebook