Latest News

Selasa, 28 Februari 2017

POTONG JARI, SIMBOL KESEDIHAN SUKU DANI DI PAPUA



Kawan Filosotrip pasti sudah banyak mengetahui mengenai tradisi potong jari ala Yakuza, yang dilakukan apabila anggota tersebut gagal menjalankan misinya. Tradisi tersebut dilakukan guna memperlihatkan penyesalan atas kegagalan yang terjadi.




Tradisi mengerikan tersebut juga dapat dijumpai di Indonesia. Suku Dani, salah satu suku di Papua menjadikan ritual tersebut sebagai suatu keharusan yang dilakukan bagi mereka. Namun tradisi yang bernama Ikipalin, ini merupakan sebuah tradisi memotong jari yang dilakukan sebagai sImbol rasa kesakitan atau kesedihan karena ditinggalkan oleh salah satu anggota keluarga.
Bagi suku Dani, jari memiliki pernanan penting yang menjadi sebuah simbol kerukukan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga yang satu sama lainnya saling melengkapi sebagai suatu harmonisasi hidup dan kehidupan.





Menurut suku Dani, kebersamaan sangatlah penting. Luka hati orang yang ditinggal mati anggota keluarga baru sembuh jika luka di jari sudah sembuh dan tidak terasa sakit lagi.
Berdasarkan sumber yang didapatkan, ritual ini dilakukan dengan menggunakan atau tanpa menggunakan peralatan tertentu. Beberapa dari mereka melakukan ritual ini dengan menggigit jari mereka sendiri hingga terputus. Ada pula yang menlilitkan benang dengan kencang sehingga menghentikan aliran darah didalam jari dan membiarkan jari tersebut membusuk dengan sendirinya. Dan ada juga yang menggunakan pisau atau kapak untuk memotong jari mereka.




Setelah melakukan pemotongan jari, luka pemotongan jari tersebut ditutup menggunakan daun dan pengobatan tradisional guna mencegah infeksi.
Pada umumnya, tradisi Ikipalin ini dilakukan oleh seorang ibu namun dalam suasana lain bisa juga oleh anggota keluarga dari orang tua keluarga laki-laku atau perempuan yang meninggal. Namun jika yang meninggal adalah istri yang tak memiliki orang tua, maka sang suami yang akan menanggungnya.
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan agama, tradisi ini sudah mulai jarang untuk dijumpai.






SUMBER 1 SUMBER 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Find Us On Facebook