Latest News

Selasa, 28 Februari 2017

Misteri Terowongan-Terowongan dan Bunker di Bawah Batavia



Menelisik Jakarta tempo dulu memang mengundang decak kagum. Kota yang dulu pernah dinamai Batavia ini hingga kini masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap.Bicara soal Jakarta tempo dulu memang tidak bisa dilepaskan dari bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Hingga kini beberapa bangunan Belanda masih bertengger kokoh, namun ada juga yang sudah terbengkalai.
Bangunan yang diyakini ada namun kini tidak terurus adalah terowongan yang menghubungkan Menara Syahbandar dengan Masjid Istiqlal dan juga Museum Fatahillah. Benarkah ada terowongan tersebut?

Penjara Bawah Tanah di Menara Syahbandar




Menara Syahbandar yang disebut juga Uitkijk Post, didirikan pada tahun 1839 dan berada di tepi barat muara Sungai Ciliwung atau tepatnya kini terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, Jakarta.
Disebut Uitkijk Post atau menara pemantau, karena menara ini digunakan untuk memantau seluruh wilayah baik ke arah Pelabuhan Sunda Kelapa dan laut lepas di sebelah utara maupun ke arah Kota Batavia di sebelah selatannya.

Kepala Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Bahari Unit Pengelolaan (UP) Dinas pariwisata, M. Isa Ansyari menunjukkan ruang bawah tanah tersebut.Sebelum dipugar, menara ini juga pernah dijadikan Kantor Komando Sektor Kepolisian(Komseko). Bahkan ruang bawah tanah atau bunker di bawah Menara Syahbandar pernah dijadikan sebagai penjara di awal kemerdekaan.




Ruang bawah tersebut dijadikan penjara karena saat itu belum ada bangunan yang memadai di sekitar pelabuhan

Terowongan Bawah Tanah antara Menara Syahbandar dan Istiqlal Jakarta




Pemerintah kolonial Belanda diyakini pernah membangun sebuah terowongan tepat di bawah menara Syahbandar yang kini lebih dikenal dengan sebutan menara miring itu.
Terowongan tersebut terhubung dengan Benteng Frederik Hendrik di taman Wilhelmina Park Oud Fort dan benteng bawah tanah, yang kemudian dibongkar dan dibangun sebuah Masjid yang kini disebut Istiqlal.



“Kalau mau kita telusuri, ada di bawah Menara Syahbandar dan terowongan itu dalam keadaan terkunci. Saya sendiri dapat informasi dari sebuah buku mengenai jalur bawah tanah di bawah Menara Syahbandar yang bisa tembus sampai mesjid Istiqlal,” ujar Wali kota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono.
Bambang mengaku, mendapat informasi itu dari penjaga museum Bahari di kawasan Menara Syahbandar. Di bawah Menara Syahbandar ada pintu besi yang merupakan lorong atau terowongan menuju yang dulunya Benteng Frederik Hendrik atau sekarang Masjid Istiqlal.



Di dalam bungker tersebut juga ada sebuah pintu besi yang merupakan pintu masuk terowongan penghubung ke Stadhuis atau yang saat ini lebih dikenal sebagai “Museum Sejarah Fatahillah Jakarta” dan juga ke benteng yang sama yaitu “Benteng Frederik Hendrik” (sekarang Mesjid Istiqlal).



Kabar perihal adanya terowongan menara Syahbandar itu hingga kini masih simpang siur. Ada yang menyakini keberadaaannya, namun ada juga yang tidak percaya.

Terowongan dan Bunker di bawah Stasiun Tanjung Priok


Stasiun Tanjung priok dibangun tahun 1914 pada masa kolonial Belanda yang saat itu dipimpin oleh Eidenberg, lalu diresmikan pada tanggal 6 April 1925. Kemudian dimulailah penggunaan kereta rel listrik (KRL) pertama dengan rute Stasiun Tanjung Priok ke Stasiun Jakarta Kota (Beos).
Pada masa itu, stasiun ini merupakan “pintu gerbang” Jakarta bagian utara sebagai tempat singgah semantara karena ramainya kedatangan para tamu dari Eropa yang baru saja tiba di Batavia dengan kapal laut-kapal laut yang merapat di pelabuhan Tanjung Priok



Di lantai dua atau dilantai atas Stasiun juga terdapat kamar-kamar, ruangan-ruangan dan bar untuk para tuan-tuan Belanda yang akan menginap saat mereka masih menunggu jadwal transportasi untuk masuk ke pusat kota Batavia atau sebaliknya, yaitu menunggu jadwal keberangkatan kapal laut menuju ke Eropa. Jadi Stasiun Tanjung Priok ini dulunya multifungsi, karena terdapat juga ruangan-ruangan mirip hotel untuk sekedar menginap sementara, atau pada masa sekarang mirip Hotel Transit.
Sejalan dengan waktu, masa kini, ternyata ada benda bersejarah peninggalan sejak zaman Belanda yang berumur ratusan tahun telah ditemukan keberadaannya dibawah Stasiun Tanjung Priok ini, yaitu adanya keberadaan bunker bawah tanah dengan pipa-pipa di dalamnya. Bukan hanya itu saja, tim evakuasi bunker juga menemukan 3 ruang bawah tanah yang dipenuhi dengan air dan lumpur yang akan digali secara bertahap serta terowongan misterius.



Konon, terowongan ini menuju ke Pulau Onrust, atau Museum Fatahillah, dan sebagainya, namun sampai sekarang belum ada bukti yang nyata. Sementara itu, rasa penasaran tim arkeolog makin diuji terkait dengan penemuan terowongan berukuran kecil yang berada di ruang bawah tanah Stasiun Tanjung Priok.

Maka pantaslah Stasiun Kereta Api Tanjung Priok menjadi salah satu obyek wisata andalan Jakarta Utara yang terangkum dalam 12 jalur wisata pesisir karena serangkaian misteri peninggalan zaman Belanda masih menyelimuti lokasi tersebut.
Diharapkan penemuan ini bisa menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung bisa menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung.
Sumber : (VIVAnews/ merdeka/berbagai sumber) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Find Us On Facebook