Latest News

Kamis, 08 Desember 2016

YOLO Trip: Bali! (Part 2)



YOLO (You Only Live Once). Mungkin itu juga yang membuat saya nekad tetap jalan meski gak bawa dompet, dan membuat kami hanya membeli tiket sekali jalan tanpa memikirkan kapan mau pulang.

Dari Kuta sampai Kintamani dan Uluwatu, dari sunset di pantai, sunrise di gunung, sampai menjelajah gua pantai tersembunyi. Memang gak salah kalau Bali itu dikatakan indah pake banget. Awal-awalnya saya pikir Bali terlalu mainstream buat jadi tempat jalan-jalan, tapi setelah ke sana malah pingin balik terus hehe.

Hari itu hari Sabtu, salah satu teman saya pun pulang pagi-pagi karena ada urusan keluarga. Jadi tinggal kami berdua. Di tengah bingung mau ngapain, dasar saya si anak Jakarta, ujung-ujungnya ke mall. Kami ke Lippo Mall Kuta, pas banget sedang ada acara adu kebolehan bartender. Nama acaranya saya lupa, dan gak sempat foto karena terlalu terpukau melihat mereka lempar-lempar botol beling yang kalo kena kepala bisa bikin masuk UGD.

Kemudian kami menemukan sebuah restoran dengan konsep diner (tempat makan ala Amerika yang biasanya menyajikan breakfast), yaitu Cosmic Diner. Tempatnya juga lucu, very instagrammable.

COSMIC DINER, LIPPO MALL KUTA




Makanannya secara keseluruhan bernuansa Barat dengan harga turis, jadi agak kurang bersahabat sama kantong (karena saya gak bawa dompet). Tapi enak buat nongkrong sambil membahas ke mana berikutnya. Kemudian kami baru tau kalau Cosmic Diner ini ada lagi di tempat lain dekat Sunset Road.

Berikutnya kami putuskan mengunjungi sebuah pantai tersembunyi di daerah Jimbaran, yaitu Pantai Tegalwangi. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 50 menit. Lagi-lagi, berbekal Waze dan sebuah motor, kami berhasil mencapai pantai itu. Untuk masuk pantai gratis, untuk parkir motor kami gak nanya tapi kasih Rp. 2000 dan gak ada kembali, jadi asumsi segitulah parkirnya.

Untuk sampai ke Pantai ini kami harus turun jalan setapak yang agak curam, tapi gak panjang kok. Di bawah, kita akan disambut dengan hamparan pasir, batu-batu karang yang berbeda-beda ukuran, dan deburan ombak yang galak. Gak tau apa memang lagi pas jam nya, tapi ombaknya galak pisan, euy. Kalau kamu gak bisa berenang seperti saya, sebaiknya agak hati-hati kalau main ke dekat-dekat air. Soalnya pasirnya rapuh, seperti mau menelan kaki. Apalagi dengan ombak yang galak itu.

PANTAI TEGALWANGI




Pantai Tegalwangi ini bagus buat yang mau foto ala-ala. Maka tidak heran, pas saya ke sana juga banyak turis yang foto prewed di sana. Saya sampai takjub karena fotografernya yang notabene orang Bali itu bisa ngomong bahasa Mandarin.

PROPERTI PREWED DI TEGALWANGI




Pulang dari sana, teman saya ngajak ke Jimbaran buat makan seafood. Tapi saya kok kurang sreg ya sama tempatnya. Berasap parah gitu karena semua saling bakar ikan. Akhirnya berdasarkan rekomendasi seorang teman dari Jakarta, kami pun melaju ke daerah Kuta dan makan di Warung Italia. Ramai, dan yang jelas: enak!

Pagi esoknya, kami sarapan di dekat hotel tempat kami menginap, tepatnya di dekat jalan Poppies, ada sebuah warung yang sesuai sama namanya, Warung Nikmat. Memang yang dijual adalah masakan khas Jawa, jadi pengobat kangen sama Warteg dekat rumah. Makanannya jenisnya banyak, enak-enak, dan dijamin HALAL!

WARUNG NIKMAT



Setelah itu kami tancap gas ke daerah Bedugul karena mau melihat Air Terjun Gitgit. Perjalanan yang cukup menegangkan menanti kami. Buat saya yang belum pernah ke daerah Bedugul, ternyata daerah ini berupa pegunungan (ya iyalah, makanya ada air terjun) dan DINGIN! Siapa bilang Bali panas? Terpaan hujan gerimis, angin, dan turunnya kabut pun melengkapi nuansa pegunungan.

AIR TERJUN KEMBAR



Kata Bli yang jaga di sana, sebetulnya ini bukan Air Terjun Gitgit. Gitgit masih naik lagi ke atas. Tapi kami sepakat tidak naik lagi karena: 1. Takut masuk angin dan 2. Ingin ke Ubud mencari makan.


Kalau ada sumur boleh kita numpang mandi,
Ceritanya dilanjut yaa nanti ~

1 komentar:

Find Us On Facebook